07 Mei 2010

Revitalisasi Tambak Udang Terbesar di Asia Tenggara Terancam Gagal

Republika OnLine » Breaking News » Ekonomi Revitalisasi Tambak Udang Terbesar di Asia Tenggara Terancam Gagal Rabu, 28 April 2010, 16:51 WIB BANDAR LAMPUNG--Proyek revitalisasi tambak udang terbesar se-Asia Tenggara di Rawajitu, Kabupaten Tulangbawang, Lampung, terancam gagal. Plasma PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) -- anak perusahaan Central Proteinaprima (CP Prima), tidak berproduksi lagi, sejak tahun lalu. Menurut Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, janji yang tidak ditepati PT CP Prima untuk merevitalisasi tambak udang windu bekas PT Dipasena Citra Darmaja ini, sudah mengganggu kehidupan plama untuk hidup sejahtera. "Investor seperti ini jangan lagi masuk ke Lampung. Jangan permainkan plasma dengan janji-janji," kata Mirza di Bandar Lampung, Rabu (28/4). Menurut dia, pihak investor tambak udang ini telah mendapat kemudahan dari daerah untuk mengelola tambak udang yang sudah terbengkalai beberapa lama, dari PT DCD kepunyaan Sjamsul Nursalim. Sebelumnya, kata dia, pihak investor sudah menyanggupi untuk memenuhi kreteria kesepakatan dengan plasma agar proses revitalisasi berjalan lancar. "Namun, sekarang dengan alasan krisis, mereka menyalahkan plasma yang tidak kualified produksi udangnya, sehingga investor lepas tangan atau default, ini tidak profesional. Mereka hanya mau memainkan plasma dan daerah Lampung," ujar pengusaha muda di Lampung ini. Sebelumnya, ratusan petambak udang plasma PT AWS menyatakan telah berhenti berproduksi udang sejak November 2009. Hal ini dikarenakan tertundanya penebaran benur (benih udang), sehingga berdampak tidak mampu mengejar siklus produksi sebanyak dua kali dalam setahun. Kepada wartawan, Ketua Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (P3UW) PT AWS, Nafian Faiz, menyatakan tertundanya penebaran benur selama 4-5 bulan mengancam petambak plasma kehilangan satu kali kesempatan berproduksi. Setiap tahun, petambak seharusnya mampu mengejar produksi sebanyak dua kali. Keterangan yang diperoleh, penghentian produksi ini, yakni berada di tambak udang windu yang sudah direvitalisasi yakni lima blok dari 16 blok di kawasan tambak eks Dipasena. Lima blok itu meliputi Blok 0, 1, 2, 3, dan 7. Dampak dari berhenti berproduksinya tambak ini, plasma mengalami kerugian hingga Rp 50 juta tahun ini. Kejadian ini, belum bisa dikonfirmasi pihak PT CP Prima.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar